08 Mei 2010

Ternyata Lebih Sehat Lari Dengan Bertelanjang Kaki


Sepertinya Anda tak perlu
buang banyak uang untuk
membeli sepatu lari yang
mahal, karena sebuah
studi membuktikan lari
bertelanjang kaki lebih
sehat dan aman.

Peneliti di Glasgow
University, Skotlandia,
menemukan bahwa pelari
yang tidak menggunakan
sepatu alias tanpa alas
kaki cenderung berlari
bertumpu pada jari kaki
atau bagian tengah kaki.
Sedangkan pelari yang
menggunakan sepatu
berlari bertumpu pada
tumit.

Seperti dilansir dari
GeniusBeauty, Jumat
(7/5/2010), hasil studi
menunjukkan bahwa
mereka yang tanpa alas
kaki saat berlari lebih
aman, mengurangi risiko
cedera lutut dan
pergelangan kaki.

Peneliti mengatakan
tanpa alas kaki
lengkungan kaki manusia
menjadi kuat dan
berfungsi sebagai
penyerap goncangan yang
besar. Tapi pada tahun
70-an sejak pelari pertama
kali menggunakan sepatu,
orang-orang juga mulai
menggunakan sandal atau
sepatu saat berlari.

Diperkirakan bahwa pelari
yang menggunakan
sepatu menghentakkan
tumitnya ke tanah sekitar
1000 kali per mil.
Menghentakkan tumit
sama saja dengan
'memukul tumit dengan
palu', yaitu menopang 1,5
sampai 3 kali dari berat
badan.

Sedangkan pelari tanpa
alas kaki menggunakan
teknik berbeda yang lebih
lembut, yaitu langkah
geser yang halus.

Para ahli mendorong
untuk beralih pada
kebiasaan lama, yaitu
berlari tanpa alas kaki.
Dengan bertelanjang kaki
maka bisa berlari secara
bertahap dan halus,
karena berlari dengan
cara ini melibatkan otot-
otot yang berbeda
dibandingkan dengan
berlari menggunakan
sepatu.

Studi lain yang dilakukan
peneliti di Amerika Serikat
dan telah diterbitkan
dalam jurnal Nature juga
menunjukkan bahwa
pelari yang bertelanjang
kaki dapat mengurangi
beban tubuh saat berlari.

"Orang-orang yang tidak
memakai sepatu ketika
berlari memiliki langkah
yang luar biasa," ujar
Daniel Lieberman, peneliti
dari Universitas Harvard,
seperti dilansir dari
Dailytech.

Hal ini penting untuk
menjalankan perlombaan
yang panjang, yang
menjelaskan mengapa
kinerja pelari yang tidak
menggunakan sepatu
begitu luar biasa.

Ini terbukti pada pelari
marathon legendaris,
Abebe Bikila asal dari
Ethiopia, yang dapat
memenangkan medali
emas dalam Olimpiade
Marathon 50 tahun lalu
tanpa alas kaki.

05 Mei 2010

Jelang Piala Thomas dan Uber ~ Indonesia ditargetkan Dobel Gelar


Jakarta, Sudah
lama Indonesia tak
merasakan jadi juara di
Piala Thomas dan Uber.
Meski kehilangan daya
saing, Ketua Umum PB
PBSI, Djoko Santoso,
menargetkan dobel gelar
untuk penyelenggaraan
tahun ini.

Kali terakhir Piala Uber
dibawa ke Indonesia
adalah tahun 1996 silam.
Kala itu dalam turnamen
yang dilangsungkan di
Hong Kong, pasukan
'Merah Putih' membawa
pulang kemenangan 4-1
atas China.

Sementara di Piala
Thomas, prestasi
Indonesia terbilang lebih
baik dengan terakhir jadi
juara pada delapan tahun
lalu. Sementara pada edisi
2004, 2006 dan 2008
langkah wakil-wakil putra
terhenti di semifinal.

Kondisi tersebut tak
membuat rombongan
Indonesia yang akan
diberangkatkan ke
Malaysia memandang
pesimistis peluangnya.
Ketua Umum PB PBSI,
Djoko Santoso, malah
menargetkan dua gelar
bisa dibawa pulang.

"Ini turnamen paling
bergengsi, Piala Thomas
dan Uber. Dengan
sekarang bertepatan
dengan 59 tahun ulang
tahun PB PBSI, kami
menargetkan membawa
kembali Piala Thomas dan
Uber ke pangkuan Ibu
Pertiwi," ungkap Djoko
Santoso dalam pidato
pelepasan atlet Thomas
dan Uber di pelatnas
Cipayung, Rabu (5/5/2010).

Rombongan Indonesia
yang diberangkatkan ke
Piala Thomas dan Uber
akan terdiri dari 39 orang.
Dua puluh di antaranya
adalah atlet (10 pria & 10
wanita), sementara tujuh
lainnya pelatih dan
sisanya ofisial.

"Persiapan kami rasa
sudah optimal, latihan
juga digelar dengan
sering. Selain itu
kebersamaan tim juga
sudah bagus. Kita harap
anak-anak bisa memberi
yang terbaik dengan
menjadi juara."

"Rombongan akan
berangkat dari Jakarta
tanggal 7. Insya Allah saya
bisa hadir di sana untuk
menonton pertandingan
final. Soal bonus nanti
dulu deh, yang penting
anak-anak berjuang
dulu," lanjut pria yang
juga menjabat Panglima
TNI itu.

Foto: Adriyanti Firdasari

03 Mei 2010

Satpol PP Paser Ciduk 14 PSK

TANAH GROGOT – Satuan
Polisi Pamong Praja
(Satpol PP) Kabupaten
Paser, Rabu (28/4) malam
hingga Kamis (29/4) dini
hari lalu menggelar razia
penyakit masyarakat.
Dalam razia itu terjaring
12 wanita dan 2 laki-laki
yang diduga pekerja seks
komersil (PSK) dan
mucikari.

Mereka itu diciduk saat
beroperasi di kawasan
Gunung Rambutan
sepanjang jalan Kuaro-
Batu Sopang. Ke-14 PSK
yang berkedok penjaga
warung “remang-remang”
itu pun digelandang ke
Kantor Satpol PP untuk
diperiksa dan diberikan
tindakan lebih lanjut.

Kepala Kantor Satpol PP
Muhammad Tauhid
mengatakan, razia
tersebut digelar berkaitan
tugasnya dalam
menegakkan Perda Paser
No 9/2004 tentang
Penanggulangan Tuna
Susila. “Selain karena
banyaknya laporan dari
masyarakat, razia
semacam ini memang kita
lakukan secara periodik,”
katanya.

Dengan tindakan tersebut,
diharapkan Paser bersih dari praktik-praktik
maksiat yang jelas-jelas
melanggar Perda dan
kesusilaan.

Dalam operasi
itu, M Tauhid mendapati
bilik-bilik berukuran 1x2
meter di setiap warung,
yang menguatkan dugaan
sebagai tempat praktik
esek-esek.
“Jika terbukti digunakan
sebagai tempat praktik
maksiat, kita akan
berupaya menutup
warung-warung tersebut
dengan mengambil
tindakan sesuai prosedur
hukum,” tandasnya.

Sebagaimana diatur dalam
Perda No 9/2004, para PSK
diancam hukuman
maksimal 3 bulan
kurungan atau denda Rp5
juta.
Sebelumnya, Satpol PP
Paser juga melaksanakan
operasi penegakkan Perda
No 8/2008 tentang
Ketertiban Umum dan
berhasil menyita ratusan
botol minuman keras dari
beberapa warung yang
tersebar di Suliliran Baru,
Kerta Bumi dan tempat
lainnya.(hh)

(Kaltimpost)

Selebrasi gila ala Lorenzo


Jerez, Banyak
cara dilakukan pembalap
untuk merayakan
kemenangan. Tapi
selebrasi Jorge Lorenzo
dengan nyemplung ke
kolam jelas tak biasa,
apalagi belakangan dia
mengaku agak menyesal.
Lorenzo menjadi juara
MotoGP Spanyol setelah
memenangi pertarungan
sengit dengan Dani
Pedrosa di lap terakhir.
Hasil tersebut mengantar
dia sementara memuncaki
klasemen pembalap
dengan poin dikumpulkan
berjumlah 45.
Tapi bukan cuma
keberhasilan memuncaki
klasemen yang membuat
Lorenzo senang luar
biasa. Adalah
kemenangan pertamanya
di Sirkuit Jerez, yang
merupakan balapan
kandangnya, di kelas
MotoGP yang membuat
jagoan Yamaha itu
melepaskan emosinya
yang meluap-luap dengan
cara yang tak biasa.
Setelah memastikan
menyentuh garis finis di
posisi terdepan, Lorenzo
memarkir tunggangannya
di salah satu sudut
lintasan. Dia kemudian
berlari kecang dengan
masih menggunakan
seragam balapnya sejauh
beberapa puluh meter.
Tepat di bibir sebuah
kolam yang terletak di
tengah sirkuit, dia
melompat bebas ke
dalamnya. Masih
menggunakan helm dan
baju balap lengkap,
pembalap Spanyol itu
terlihat asyik berenang di
kolam tersebut.
"Saya melihat danau itu
pada hari Kamis dan
berpikir kalau saya
lompat ke sana maka fans
akan menyukainya," sahut
Lorenzo seperti dikutip
dari Autosport.
Satu hal yang disesali
Lorenzo dari aksi
nekatnya tersebut adalah
soal bertambahnya bobot
pakaian balap yang dia
pakai. Tak lama setelah
menceburkan diri, mantan
juara dunia 250 cc itu
terlihat berusaha
berenang kembali ke tepi
namun tak kunjung bisa
bergerak.
"Tapi saya tak
memikirkan soal beratnya
pakaian kulit saya dalam
keadaan basah dan untuk
beberapa saat, saya pikir
saya tak akan bisa keluar.
Ini hari yang luar biasa.
Saya tak percaya saya bisa
meraih mimpi ini, di
depan fans Spanyol di
tempat yang magis ini,"
seloroh Lorenzo yang
harus dibantu beberapa
orang untuk keluar dari
kolam dan tak
ketinggalan acara
penyerahan piala di atas
podium.