05 Maret 2011

Sejarah PSSI Dan Sepakbola Indonesia


PSSI (Persatuan Sepakbola seluruh Indonesia) dibentuk pada 19 April 1930 di Yogyakarta.
Sebagai organisasi olahraga yang dilahirkan di zaman penjajahan
Belanda, Kelahiran PSSI betapapun terkait dengan kegiatan politik menentang penjajahan.
Jika meneliti dan menganalisa saat-saat sebelum, selama dan sesudah kelahirannya, sampai lima tahun pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, jelas sekali bahwa PSSI lahir, karena dibidani politisi bangsa yang baik secara langsung maupun tidak, menentang penjajahan dengan strategi menyemai benih-benih nasionalisme di dada pemuda-pemuda Indonesia.

PSSI didirikan oleh seorang insinyur sipil bernama Soeratin Sosrosoegondo. Dia menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Teknik Tinggi di Heckelenburg, Jerman pada tahun 1927 dan kembali ke tanah air pada tahun 1928. Ketika kembali ke tanah air Soeratin bekerja pada sebuah perusahaan bangunan Belanda “Sizten en Lausada” yang berpusat di Yogyakarta. Di sana ia merupakan satu-satunya orang Indonesia yang duduk dalam jajaran petinggi perusahaan konstruksi yang besar itu.
Akan tetapi, didorong oleh jiwa nasionalis yang tinggi Soeratin mundur dari perusahaan tersebut.
Untuk mengenang jasanya, PSSI rutin menggelar kompetisi Piala Soeratin.

Begitu PSSI terbentuk, Soeratin dkk segera menyusun program yang pada dasarnya “menentang” berbagai kebijakan yang diambil pemerintah Belanda melalui NIVB. PSSI melahirkan “stridij program” yakni program perjuangan seperti yang dilakukan oleh partai dan organisasi massa yang telah ada. Kepada setiap bonden/perserikatan diwajibkan melakukan kompetisi internal untuk strata I dan II, selanjutnya di tingkatkan ke kejuaraan antar perserikatan yang disebut “Steden Tournooi” dimulai pada tahun 1931 di Surakarta.

Kegiatan sepakbola kebangsaan yang digerakkan PSSI, rupanya mampu menggugah Raja Surakarta Susuhunan Paku Buwono X. Kemudian dia mendirikan stadion Sriwedari lengkap dengan lampunya, sebagai apresiasi terhadap kebangkitan “Sepakbola Kebangsaan”. Stadion itu diresmikan Oktober 1933.
Dengan adanya stadion Sriwedari ini kegiatan persepakbolaan semakin gencar.

Lebih jauh Soeratin mendorong pula pembentukan badan olahraga nasional, agar kekuatan olahraga pribumi semakin kokoh melawan dominasi Belanda. Tahun 1938 berdirilah ISI (Ikatan Sport Indonesia), yang kemudian menyelenggarakan Pekan Olahraga (15-22 Oktober 1938) di Solo.

Karena kekuatan dan kesatuan PSSI yang kian lama kian bertambah akhirnya NIVB pada tahun 1936 berubah menjadi NIVU (Nederlandsh Indische Voetbal Unie) dan mulailah dirintis kerjasama dengan PSSI.
Sebagai tahap awal NIVU mendatangkan tim dari Austria “Winner Sport Club“ pada tahun 1936.

Pada tahun 1938 atas nama Dutch East Indies, NIVU mengirimkan timnya ke Piala Dunia 1938, namun para pemainnya bukanlah berasal dari PSSI melainkan dari NIVU walaupun terdapat 9 orang pemain pribumi/Tionghoa. Hal tersebut sebagai aksi protes Soeratin, karena dia menginginkan adanya pertandingan antara tim NIVU dan PSSI terlebih dahulu sesuai dengan perjanjian kerjasama antara mereka, yakni perjanjian kerjasama yang disebut “Gentelemen’s Agreement” yang ditandatangani oleh Soeratin (PSSI) dan Masterbroek (NIVU) pada 5 Januari 1937 di Jogyakarta. Selain itu, Soeratin juga tidak menghendaki bendera yang dipakai adalah bendera NIVU (Belanda).
Dalam kongres PSSI 1938 di Solo, Soeratin membatalkan secara sepihak perjanjian dengan NIVU tersebut.

Masuknya balatentara Jepang ke Indonesia menyebabkan PSSI pasif dalam berkompetisi, karena Jepang memasukkan PSSI sebagai bagian dari Tai Iku Kai, yakni badan keolahragaan produk Jepang, kemudian masuk pula menjadi bagian dari Gelora (1944) dan baru lepas otonom kembali dalam kongres PORI III di Yogyakarta (1949).

Dalam perkembangannya PSSI telah menjadi anggota FIFA sejak tanggal 1 November 1952 pada saat kongres FIFA di Helsinki. Setelah diterima menjadi anggota FIFA, selanjutnya PSSI diterima pula menjadi anggota AFC (Asian Football Confederation) tahun 1952, bahkan menjadi pelopor pula pembentukan AFF (Asean Football Federation) di zaman kepengurusan Kardono, sehingga Kardono sempat menjadi wakil presiden AFF untuk selanjutnya Ketua Kehormatan.

(Dikutip dari berbagai sumber)

24 Februari 2011

Padamu Putra Papua Kami Berharap


Oktovianus Maniani dan Titus Bonai, terlihat
dominan saat Timnas Indonesia menjamu Turkmenistan
pada leg 1 Pra Olimpiade di stadion Jakabaring Palembang. Titus adalah nama baru di Timnas, tetapi anak muda dari Papua ini sempat memukau khalayak
pencinta bola Indonesia, saat sodokan tumitnya membuka gol cantik pada menit ke 13’, di babak pertama.
Titus, memanfaatkan eksekusi tendangan bebas
Okto, yang juga adalah sama berasal di bumi cenderawasih. Okto, bukan nama baru. Pemain muda bertalenta ini, telah bersinar di piala AFF kemarin. Okto, juga menjadi andalan di klub Sriwijaya FC, sehingga sempat seolah terjadi perebutan terhadapnya antara Alfred Riedl, yang lagi memingitnya di Timnas U-23 dan pelatih Ivan Kolev yang berharap Okto tetap membela Sriwijaya FC.

Tim Garuda kalah 1-3 dari the green man, julukan timnas Turkmenistan, itu
kenyataan. Gol Amanov, Alexander dan vahyt membawa pil pahit bagi Timnas meraih
kemenangan di kandang sendiri. Walau demikian,
Kekalahan itu tetap tidak bakal membawa diri ini, lantas mencibir apalagi mencela asuhan pelatih Alfred Riedl ini. Memang, Riedl terkesan seolah masih menjadikan Yongki Aribowo dkk, seperti sebuah eksprimen. Masih
mencari pola jitu meramu skuad merah putih, tetapi usahanya tidak bisa dibilang sia-sia.
Empat kali ancaman ke gawang lawan, di babak kedua dengan keberanian dan keahlian men-dribbling bola, seolah saya dipertontonkan pola main tarian samba ala Brasil.

Adalah Okto dan Titus sang mutiara Hitam dari Papua, mencipta ke empat peluang itu. Okto, seperti Robinho yang kecil dan lincah dan Titus ibarat Ronaldinho sang
penerobos. Pengandaian ini mungkin berlebihan, tetapi setidaknya itulah harapan.

Okto, memang sepertinya dijadikan andalan sang pelatih. Pemain bertubuh mungil dan kadang lucu dengan tawa cengirnya ini, bolak balik ke depan dan ke belakang.
Menyusur lapangan di sayap kiri, dan kadang mengibaskan sayapnya ke tengah mengatur
serangan. Keberaniannya
baku hantam dengan pemain jangkung,
berbuah tusukan lutut di kepalanya yang sempat membuatnya puyeng.
Okto, tetap bangkit dan memberi spirit petarung pada kawan setimnya.

Skill Individu Tim Garuda, masihlah di atas dari tim tamu Turkmenistan,
setidaknya para pemain depannya. Pertahanan
Timnas U-23 ini, juga kokoh sebelum dua gol di menit-menit terakhir itu memecah konsentrasinya.
Yah, kelemahan skuad timnas kita, memang pada konsentrasi. Sama, ketika Timas Senior bertandang ke Bukit Jalil. Hanya karena laser, tim Garuda keok dari tim harimau Malaysia.

Dua gol, Turkmenistan di
babak kedua hanya dengan memanfaatkan
tiga peluang. Celakanya, dua dari tiga peluang itu bersarang ke gawang Kurnia Meiga. Gol-gol itupun tercipta mengejutkan, bukan karena dirancang dengan serangan apik, tetapi bola-bola lambung yang
mengandalkan postur tubuh. Kecuali gol kedua dari Vahyt, yang memang karena skill individu pemain berumur 19 tahun ini. Tetapi tetap saja, itu karena umpan lambung.

Timnas kita, mencipta empat peluang dan semua berbahaya, tetapi tak berbuah gol. Peluang itu terancang dengan apik, dari kaki ke kaki dengan skill individu yang
lumayan, seperti harapan Riedl. Sayang, Dewi keberuntungan tidak berpihak pada Titus, Yongki, dan Rishadi yang mendapatkan peluang itu dari assist yang di cipta Okto.

Masihkah kita ingin mencela Timnas? Ataukah kekalahan ini akan kita hubungkan dengan suksesi PSSI. Akh, saya mencoba menghindari dari
mentalitas pencela.
Melihat yang positif saja, membangun harapan.
Harapan adalah Do’a.
Daripada mencaci
kegelapan, lebih baik kita nyalakan lilin harapan.
Harapan yang potensinya tercapai, karena Timnas sementara membangun mentalitas juara. Kualitas pemainnya tidak jelek-jelek amat, kecuali kelemahan di posisi tengah.

“Timnas kita, baik di depan dan juga di belakang. Hanya pemain tengah begitu mudah kehilangan bola”,
Kelihatan memang, bahwa tim lawan begitu sulit menembus kotak penalti, dan juga dibuat repot saat Okto, Titus, dan Yongki, meringsek masuk ke gawang Geldiyev Batyrke.

Janji Asisten pelatih, Wolfgang Pikal bahwa timnya akan berusaha menghindari permainan bola-bola atas saat melawan Turkmenistan,
sepertinya tidak terjadi di babak pertama dan di awal babak kedua.

Kelemahan pemain tengah mengharuskan pemain belakang selalu saja melambungkan bola ke depan. Serangan para winger yang diharapkan bergerak cepat menembus pertahanan kokoh the green man, baru terjadi setelah kebobolan 2 gol.

Pelatih Riedl, sepertinya butuh kapten U23, sekaliber Firman Utina yang lihai membagi bola, dan sesekali menyerang.
Yongki, yang harus diganti di babak kedua belum mampu menyamai kapten timnas senior ini. Di lini depan, sepertinya saya rindu dengan Irfan Bachdim. Keahliannya memainkan bola, sepertinya tepat ditandemkan dengan Okto dan Titus.

Yah, kerinduan saya akan Irfan, sama dengan kegemasan saya, saat Boaz Salossa tidak memperkuat Timnas senior di piala AFF kemarin. Riedl memang tegas, ia patuh dengan regulasi PSSI. Apakah PSSI yang kini seolah Parpol itu patuh dengan aturannya?
Entah, yang pasti pada bulan Maret nanti saat away timnas ke Turkmenistan, akan muncul ketua baru PSSI.
Ketua yang mungkin hanya di ‘baru’kan.
Timnas telah
beregenerasi, seharusnya sang nahkoda PSSI tidak juga keasyikan dengan status quonya.

27 Januari 2011

Skuad Inti Timnas Indonesia

Pelatih Timnas Indonesia telah merilis nama-nama skuad inti yang akan diturunkan pada laga pra olimpiade dan juga dipersiapkan untuk Sea Games 2011, serta akan diproyeksikan untuk Piala Dunia 2014.

Berikut nama-nama skuad inti tersebut



Andi Darussalam Tabusalla
Posisi: Penjaga gawang (karena badannya gemuk, jadi lebih cocok sebagai penjaga gawang, sebab jika sebagai striker di khawatirkan larinya kurang kencang).


Nurdin Halid
Pos: Belakang (Nurdin cocok jadi bek karena sangat pandai mengatur ritme dalam bertahan, buktinya selama ini sudah sangat banyak desakan untuk mundur, tapi Nurdin tetap keukuh dalam bertahan)


Arifin Panigoro
Pos: Belakang (akan saling bahu membahu dengan Nurdin dalam menghalau serangan lawan, dan melupakan segala perseteruan yg ada)


Nirwan D Bakrie
Pos: Belakang (semakin komplit pertahanan timnas Indonesia, apalagi Nirwan sangat solid dalam bertahan, khususnya mempertahankan kedudukan Nurdin)


Djoko Driyono
Pos: Tengah


Iman Arif
Pos: Tengah


Togar Manahan Nero
Pos: Tengah (main ngotot tp emosi tdk terkontrol, Ismail Saleh Mukadar pun hampir ditonjoknya)


Nugraha Besoes
Pos: Tengah (sering ga becus permainannya)


Iwan Budianto
Pos: Tengah


Aburizal Bakrie
Pos: Depan


Gayus Tambunan
Pos: Depan (jangankan membobol gawang lawan, membobol duit negara aja gampang kok!).

26 Januari 2011

'UFO' Tuntut Nurdin Turun


Fenomena munculnya crop circle yang diduga
dibikin oleh UFO (Uniedntified Flying Object) di Sleman memantik
kreativitas lain. Kreativitas ini diarahkan pada kritik terhadap keberadaan Ketua Umum PSSI Nurdin Halid.

Kalau di Sleman menggunakan media tanaman padi di persawahan, crop circle ini sebatas olahan gambar dengan latar persawahan.
Tampaknya, penciptanya mengesankan bahwa crop circle muncul di wilayah Bali. Memang, PSSI baru saja menggelar kongres tahunan di Bali.

Gambar memperlihatkan logo PSSI berwarna hijau tua. Di bawah logo terdapat tulisan besar, yakni "Turunkan Nurdin".

Pencipta crop circle ini mungkin berlatar belakang pecinta bola yang ingin terjadi suksesi dalam kepengurusan PSSI.

Dalam satu tahun terakhir, pecinta bola di tanah air memang getol
menyuarakan tuntutan agar Nurdin Halid turun.
Tuntutan itu kerap diteriakkan dalam laga-laga di kompetisi Indonesia Super League dan kompetisi Liga Primer Indonesia.
Bahkan, teriakkan juga muncul dalam pertandingan timnas Indonesia saat berlaga di Piala AFF 2010. Padahal saat itu pertandingan disaksikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sayangnya, tuntutan itu tampaknya sulit terwujud karena ada rencana bahwa Nurdin
Halid menjadi calon tunggal dalam Kongres Luar Biasa PSSI yang digelar bulan Maret mendatang.